Sunday, October 12, 2025

Aku ingin memaknai hal-hal yang kulakukan

2023 lalu, setelah postingan terakhirku, antara bulan september dan desember, banyak hal terjadi. Hal-hal yang tak sempat kutulis disini, mungkin suatu hari nanti. Namun aku ingin membagikan sebuah anekdot yang baru saja terlintas dalam benakku, seperti ilham yang tiba-tiba menyambar begitu saja.

Kala itu masa perekrutan anggota baru, aku ditugaskan membuat poster promosi UKM Teater, tanpa menggunakan laptopku, karena saat itu sedang di pinjam. Itu cerita yang sangat panjang pula, namun bukan itu fokus yang kali ini hendak aku sorot.

Karena di hari-hari itu, aku meminjam laptop kesana kemari mengerjakan poster itu. Sohibku kala itu yang pernah sekelas bersama di semester 1 dan 2, Bima bersama tongkrongannya. Dan Fio, teman sekelasku selama SMP, di Manggar. 3 tahun lebih telah berlalu sejak terakhir kita menyempatkan bertemu di bangku SMA kelas 10, dan pertemuan pertama kami setelahnya sejak itu adalah karena aku butuh laptopnya untuk mengerjakan poster promosi UKM Teater yang bahkan tak pernah ia dengar sebelumnya.

Roda mobilku terperosok selokan jam 12 malam tepat didepan kosnya ketika aku hendak parkir untuk menggunakan laptopnya mengerjakan poster itu, seluruh penghuni kos didepan selokan itu berduyun-duyun keluar semuanya mendengar suara keras mobilku menghantam tanah ketika roda itu amblas ke selokan, jam 12 malam. Itu sungguh malam yang panjang.

Satu setengah jam habis malam itu mengeluarkan roda dari selokan dan menggantinya dengan ban cadangan karena yang asli sobek ketika aku mencoba menekan pedal terlalu kencang untuk membebaskan diri. Kemudian aku mengerjakan poster semalam suntuk hingga pukul 7 pagi, dimana aku langsung pamit karena menjadi pengurus Teater kala itu memang sungguh sesibuk itu.

Namun bukan itu pula yang hendak aku sorot dari lika-liku kecil ini.

Setelah kembali dari UNNES, tempat kos Fio berada, Arya bertanya mengapa tidak meminjam laptop miliknya saja? Mengapa harus jauh-jauh ke UNNES? Dan kala itu aku merasa bodoh karena inefisiensinya, namun kurasa sekarang aku telah menemukan jawaban sesungguhnya.

Aku mencari makna, makna dari penugasan yang sungguh berat itu. Makna yang dapat beresonansi dengan hatiku, karena begitulah aku selalu hendak menjalani hidupku kala itu. Aku meminjam laptop Fio, laptop Bima, karena aku tahu aku dapat bersandar pada mereka, karena aku tahu mereka peduli padaku sebagaimana aku peduli mereka. Bukan berarti rekan-rekan di Teater sepenuhnya tidak peduli nasibku, namun tanggung jawab yang dilimpahkan dari UKM sungguh telah menyita begitu banyak waktuku, waktu kami, hingga tak ada senggang kami yang tersisa untuk bersantai, tak ada senggang yang tersisa untuk menjaga tali silaturahmi kami yang menguntai keluar Teater, aku rindu kedekatan-kedekatan yang telah lebih dulu kuperoleh diluar itu. Aku ingin terus mendekapnya, bagaimana pun caranya, bahkan jika harus menyeret tanggung jawabku keluar jauh dari lingkungan Teater. Bahkan jika aku harus bersusah, akan ku rela, karena aku sungguh rindu, aku mendamba bisa bersama mereka-mereka lagi.

Namun aku hari itu masih belum tahu, seberapa jauh lagi Teater akan membawaku pergi dari orang-orang yang kukasihi.

Yang tersisa hari ini, obrolan grup yang selalu ramai setiap hari, namun karena aku tak pernah hadir di perkumpulan mereka, karena aku terlalu sibuk dengan Teater, aku tak dapat mengikuti lelucon dan obrolan terbaru mereka.

Sama saja tak diikutsertakan dalam obrolan grup, anggota bayangan, tidak nyata, terasingkan.

Dan yang kuperoleh dengan menjaga loyalitasku pada UKM Teater, kedirian yang luluhlantak sepenuhnya karena kuberikan seluruh jiwa ragaku, dan UKM Teater tidak pernah mengganjarnya, mengapresiasi dedikasi yang telah kupersembahkan. Ia terus menuntut, menuntut, dan menuntut, dan aku terus memberi, memberi, dan memberi. Waktu tidurku, istirahatku, kawan-kawanku, nilai ujianku, tugas-tugasku, hari liburku, dan setelah semua yang kuberikan, masih kurang. UKM Teater belum berjaya, pementasan setelah proses produksi selama 5 bulan menghasilkan performa yang masih tidak maksimal, tuntutannya tak pernah usai, dan aku yang bagai domba kala itu digembalakan sedemikian rupa dengan dogma kekeluargaan.

Aku rindu kawan-kawanku, mana saja. 

Monday, October 6, 2025

Jawabannya bukan membuang ponsel

Kabel pengisi daya ponselku hilang, beruntungnya aku masih dapat mengakses pesan-pesan lewat komputer jinjing. Namun itu juga berarti akses ke seluruh penjuru internet, waktu yang terbuang tidak terasa buruk, itu salah. Sungguh salah, aku belum sarapan karena terlalu sibuk mengutak atik komputer, sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 18:49.

Dalam buku harianku, sempat kutulis, "Pekerjaan beberes rumah bukan suatu capaian, atau rintangan yang harus ditaklukkan. Namun bentuk terima kasih atas struktur rumah yang telah melindungi penghuninya dari ganasnya cuaca alam luar, itu adalah adab yang baik dan sudah sepantasnya dilaksanakan. Mencuci piring sendok garpu gelas yang kotor bukanlah sosok antagonis yang harus dikalahkan, namun bentuk rasa syukur terhadap jasanya yang telah membantu pemiliknya dapat makan dengan praktis dan nyaman. (...) Memasak air dengan kompor dan menyiapkan wadah gelasnya, menunggu airnya panas hingga menuangkannya dengan corong kedalam botol gelas, hanya demi minum air hangat karena air galon sudah habis dan yang tersisa dirumah hanyalah air botol kemasan, membuatku merasa lebih hidup daripada hanya menekan tombol dispenser. Kehidupan modern telah merenggut momen-momen kecil itu dariku, momen-momen yang memberi makna pada tiap tarikan nafasku melawan keringnya radang tenggorokan."

Memaknai setiap tarikan nafas, ingin aku lakukan, namun sepertinya tidak mungkin dengan kehidupan ini. Ponselku masih mati, sejak semalam. Ini memperburuk keadaan karena aku memiliki komputer yang jauh lebih mampu menarik perhatianku dari hal-hal yang lebih penting. Apakah semestinya teknologi tidak masuk kedalam rumah tempat beristirahat? Tempat bersyukur? Tempat beribadah? Karena teknologi merenggut semua itu dariku.

Entri ini mungkin terdengar seolah aku menyalahkan teknologi atas segala keburukan yang menimpaku, tapi memang benar. Beberapa orang yang membaca mungkin akan menimpali, bahwa semua itu bisa ditangani dengan kedisiplinan diri, kontrol diri, namun berpuasa kurasa adalah jalan paling tepat. Berhenti menggunakan teknologi sama sekali, sepertinya adalah tindakan yang harus kulakukan untuk merebut kembali kendali atas kehidupanku, kontrol diriku.

Jejeran mesin kasino hampir tidak pernah memiliki belokan tajam kaku, selalu lengkungan mulus, menggelincirkan pengunjungnya yang berusaha berhenti dan keluar untuk mencoba sekali lagi saja. Karena belokan tajam memiliki konotasi pengambilan keputusan besar atau ekstrim dalam alam bawah sadar, karena hanya inilah satu-satunya cara untuk berhenti. Dengan mengambil langkah ekstrim, mencabut segala yang mendatangkan keburukan, dan menggantinya dengan hal-hal yang lebih positif.

Sekarang yang kubutuhkan hanyalah jam weker, komputer dan ponsel harus sejauh-jauhnya berada dari jangkauanku ketika dirumah, kurasa.

Jawabannya bukan membuang ponsel, bukan hanya ponsel, tapi seluruh hiburan digital berbasis internet.