Sunday, April 12, 2026

Yang kutuhankan dalam hatiku

Ketika hati resah, gelisah seusai berbuat dosa, ketika terbersit keinginan untuk mengobati sesak dalam hati itu dengan musik, ketika itu lah tuhan sedang memanggilku, untuk kembali ke jalanNya.


Aku tak lagi mendengarkan musik, tak lagi aku mendengarkan nyanyian Tokino Sora, atau Teio dan Mcqueen di lagu Komorebi no Yell mereka, atau Suisei di 3:12 nya.

Akan kulayakkan diriku untuk melantunkan kembali ayat-ayat Nya. Hanya kepada Nya lah aku kembali, hanya kepada Nya lah aku meminta pertolongan.

Saturday, April 4, 2026

Membandingkan Saturnus dan Epsilon Eridani

Barangkali yang sedang kuhadapai saat ini merupakan ujian, atau jawaban dari doaku.

Apakah, Eridani, sungguh orang yang tepat untuk menemaniku di dunia dan akhirat? Ketika ku lihat kembali rekam jejak kami, tidak kah sungguh tabah ia menghadapi apa-apa ku disaat sulit. Dan ia masih kembali padaku ketika aku mencarinya sekembalinya logika ku, apakah aku telah menyia-nyiakan afeksinya padaku?

Ketika aku bersama Eridani, cukup sering pula aku bercengkerama dengan Saturnus. Kala itu aku yakin, hubungan bersama Eridani takkan bertahan. Meski akhirnya kami bertahan lebih lama dari yang kukira. Namun Saturnus terlihat seperti kandidat yang ideal untuk menjalani sisa hidup, hingga menuju akhirat. Jebolan pondok, berpakaian syar'i, mahasiswa kelas unggulan, pertukaran pelajar ke UGM, orang yang sangat keren. Dan, terlebih lagi, jurusan Teknik Informatika, logikanya pasti encer.

Namun kemudian berlangsung lama jangka waktu ku tak bertukar kabar dengannya. Ketika aku menanyakan keadaannya, ia berada dalam kondisi yang tak kusangka dapat ia alami. Terombang-ambing tak tentu arah setelah menyelesaikan studinya di Jiran dan menunggu wisuda, ia singkat bercerita sehari-harinya belakangan dihabiskan di kamar, tak hendak bergerak, tak memiliki cukup niatan untuk membenahi kondisinya.

Ketika aku menulis paragraf itu, aku menyadari kekuranganku sebagai manusia yang penuh perhitungan dan penilaian, prasangka, seenteng itu menilai dirinya, kepribadiannya.

Barangkali yang ia butuhkan adalah seseorang untuk menjaminnya, menemaninya, bahwa semua akan baik-baik saja, bahwa semua akan membaik jika ia menanti dan mengejar hari yang lebih baik itu. Namun aku tak mampu menjadi orang itu, apalagi hanya lewat teks.

Ketika kubandingkan dengan hari-hariku yang sungguh kelam di beberapa tahun terakhir, dan bagaimana Eridani selalu disana, siap meladeni pesimisme ku kala itu, kupikir, "Apakah aku telah sungguh menyia-nyiakan wanita setangguh itu? Wanita setangguh itu, yang mati-matian mengejarku????" 

Namun kembali lagi aku berpikir, jika aku sungguh serius mengejar dunia dan akhirat, apakah Eridani siap melangkah dengan ritme yang sama denganku? Dengan gaya hidupnya yang masih urakan, apakah ia bisa merelakan kenikmatan dunia untuk mengejar akhirat bersamaku?

Apakah aku harus mulai memikirkan hal ini sejak kini? Atau haruskah aku menunda pertimbangan ini hingga kelak ketika aku mapan?

Aku... tak tahu.

Barangkali pula, jawaban yang disiapkan Allah untukku bukan keduanya.

Thursday, March 26, 2026

Yang dituhankan dalam hati manusia

Beberapa waktu lalu, aku membuat sebuah hipotesa. Jika aku bisa menghafal lirik lagu sampai diluar kepala, apa sulitnya menghafal Al Quran secara mandiri?

Jadilah aku menyusun daftar, lagu-lagu yang liriknya telah kuhafal diluar kepala dan dapat kunyanyikan dari awal hingga akhir tanpa harus mendengarkan musik instrumen pengiringnya sedikitpun.


Apa sulitnya 6666 ayat?

* * *

Ketika aku memulai perjalanan ini, aku belum menyadarinya, tapi membuat daftar itu seolah menyadarkan aku bahwa semudah itu manusia dapat menuhankan sesuatu dalam hati mereka.

Umat islam di zaman Rasulullah tidak memiliki mushaf Al Quran yang lengkap hingga zaman kekhalifahan Utsman bin Affan, seluruh 6666 ayat Al Quran dulu hidup dalam hati setiap umat kala itu.

Aku pernah berpikir, hidup yang diabdikan pada agama dan akhirat tanpa bumbu-bumbuan hiburan duniawi, apakah tidak terasa hambar? Tidak mengikuti film terkini, musik terkini, apakah tidak terasa kosong? Namun rupanya tidak, karena agama semudah itu mengisi hati manusia hingga tumpah-meluap. Keresahan hati manusia modern berasal dari ketidakpastian yang dimiliki unsur duniawi, karena mereka menuhankan hal-hal yang tidak pantas dituhankan.

Orang-orang zaman dahulu memiliki prinsip hidup yang sangat asing dengan kita di zaman modern. Meski dihadapi keliaran alam semesta, mereka melangkah mantap dalam hidup mereka. Meski tak pernah pasti apa mereka akan dapat pulang dengan selamat kembali ke rumah dan orang yang mereka kasihi, mereka tegak dan gagah memperjuangkan hidup mereka. Tuhan kan bantu mereka melewati rintangan apapun, yang perlu mereka lakukan hanyalah berusaha sebisa mereka, membuktikan diri bahwa mereka pantas ditolong kekuatan ilahi, sekecil apapun bentuknya, dengan kebesaran Nya, pasti cukup untuk menolong mereka.

Entri ini agaknya cukup personal buatku, aku masih tak tahu apakah seluruh 6666 ayat itu akan berhasil aku hafalkan atau tidak. Namun aku yakin, menuhankan yang pantas untuk dituhankan adalah langkah yang tepat. Ketika aku merindukan dekapan Eridani kala dilanda sepi, aku tak lagi berputus asa. Karena Allah dekat, sangat dekat, selalu dalam jangkauan. Cinta Nya cukup untuk mengisi hatiku hingga melimpah ruah ketika aku mengizinkannya, maka akan kupersilahkan.

Tuhan izinkan aku untuk dapat terus merasakan nikmat beribadah.

Monday, February 9, 2026

Tinggallah dalam hujan

Rintik hujan menghiasi kaca di mobil, lampu kekuningan sepanjang jalanan Kota Lama menghiasi malam kami. Musik jamet berputar di stereo mobil, mengisi kesunyian antara kami berdua, mencoba mengalihkan suasana ke arah yang lebih jenaka nan ringan.

Namun tak satu pun dari kami dapat memungkiri, momen itu sureal, seakan kita sedang hanyut dalam dunia mimpi. Musik-musik itu tak dapat membising lebih keras dari realita yang sedang kami hadapi.

Di dunia yang ideal, malam itu tak pernah berakhir. Kami masih menyusuri kota Semarang, berhiaskan lampu malam dari gedung, kafe, kendaraan yang berpapasan, kami menceloteh hal yang telah lalu, penyesalan, kelucuan, renungan, ganjalan dalam hati.

Tanpa terasa, tibalah kami di depan tempat tinggalnya. Masih dihiasi rintik hujan, Ia menuntut kita berdua mengeluarkan ponsel.

"Jangan lupa, kita saling blokir."

"Aku belum pernah blokir orang."

"Kalo gitu aku bakal jadi yang pertama."

Seusainya, tak mampu lagi berlama-lama gadis itu bertahan di bangku penumpang. Ia melebarkan lengannya, memohon untuk terakhir kalinya, dekapan antara kita. Ku peluk erat badannya, kuusap rambutnya, dalam momen yang hanya berlangsung 5 detik itu, semesta terasa bagai menahan nafasnya. Sesingkat-singkatnya momen itu, begitu abadi rasanya membekas.

Ia pun melepas, mengucap hati-hati, dan menerjang rintik hujan yang masih tak kunjung berhenti. Barangkali pula, linangan air mata nya mengalir, menyatu dengan rintik-rintik air yang berjatuhan.

"Hujan malam itu takkan kembali lagi, dan begitu pula hubungan kita." -SeN, "Ame ni Yadorite"