Apakah, Eridani, sungguh orang yang tepat untuk menemaniku di dunia dan akhirat? Ketika ku lihat kembali rekam jejak kami, tidak kah sungguh tabah ia menghadapi apa-apa ku disaat sulit. Dan ia masih kembali padaku ketika aku mencarinya sekembalinya logika ku, apakah aku telah menyia-nyiakan afeksinya padaku?
Ketika aku bersama Eridani, cukup sering pula aku bercengkerama dengan Saturnus. Kala itu aku yakin, hubungan bersama Eridani takkan bertahan. Meski akhirnya kami bertahan lebih lama dari yang kukira. Namun Saturnus terlihat seperti kandidat yang ideal untuk menjalani sisa hidup, hingga menuju akhirat. Jebolan pondok, berpakaian syar'i, mahasiswa kelas unggulan, pertukaran pelajar ke UGM, orang yang sangat keren. Dan, terlebih lagi, jurusan Teknik Informatika, logikanya pasti encer.
Namun kemudian berlangsung lama jangka waktu ku tak bertukar kabar dengannya. Ketika aku menanyakan keadaannya, ia berada dalam kondisi yang tak kusangka dapat ia alami. Terombang-ambing tak tentu arah setelah menyelesaikan studinya di Jiran dan menunggu wisuda, ia singkat bercerita sehari-harinya belakangan dihabiskan di kamar, tak hendak bergerak, tak memiliki cukup niatan untuk membenahi kondisinya.
Namun kemudian berlangsung lama jangka waktu ku tak bertukar kabar dengannya. Ketika aku menanyakan keadaannya, ia berada dalam kondisi yang tak kusangka dapat ia alami. Terombang-ambing tak tentu arah setelah menyelesaikan studinya di Jiran dan menunggu wisuda, ia singkat bercerita sehari-harinya belakangan dihabiskan di kamar, tak hendak bergerak, tak memiliki cukup niatan untuk membenahi kondisinya.
Ketika aku menulis paragraf itu, aku menyadari kekuranganku sebagai manusia yang penuh perhitungan dan penilaian, prasangka, seenteng itu menilai dirinya, kepribadiannya.
Barangkali yang ia butuhkan adalah seseorang untuk menjaminnya, menemaninya, bahwa semua akan baik-baik saja, bahwa semua akan membaik jika ia menanti dan mengejar hari yang lebih baik itu. Namun aku tak mampu menjadi orang itu, apalagi hanya lewat teks.
Ketika kubandingkan dengan hari-hariku yang sungguh kelam di beberapa tahun terakhir, dan bagaimana Eridani selalu disana, siap meladeni pesimisme ku kala itu, kupikir, "Apakah aku telah sungguh menyia-nyiakan wanita setangguh itu? Wanita setangguh itu, yang mati-matian mengejarku????"
Namun kembali lagi aku berpikir, jika aku sungguh serius mengejar dunia dan akhirat, apakah Eridani siap melangkah dengan ritme yang sama denganku? Dengan gaya hidupnya yang masih urakan, apakah ia bisa merelakan kenikmatan dunia untuk mengejar akhirat bersamaku?
Apakah aku harus mulai memikirkan hal ini sejak kini? Atau haruskah aku menunda pertimbangan ini hingga kelak ketika aku mapan?
Aku... tak tahu.
Barangkali pula, jawaban yang disiapkan Allah untukku bukan keduanya.
Aku... tak tahu.
Barangkali pula, jawaban yang disiapkan Allah untukku bukan keduanya.
No comments:
Post a Comment