Monday, February 9, 2026

Tinggallah dalam hujan

Rintik hujan menghiasi kaca di mobil, lampu kekuningan sepanjang jalanan Kota Lama menghiasi malam kami. Musik jamet berputar di stereo mobil, mengisi kesunyian antara kami berdua, mencoba mengalihkan suasana ke arah yang lebih jenaka nan ringan.

Namun tak satu pun dari kami dapat memungkiri, momen itu sureal, seakan kita sedang hanyut dalam dunia mimpi. Musik-musik itu tak dapat membising lebih keras dari realita yang sedang kami hadapi.

Di dunia yang ideal, malam itu tak pernah berakhir. Kami masih menyusuri kota Semarang, berhiaskan lampu malam dari gedung, kafe, kendaraan yang berpapasan, kami menceloteh hal yang telah lalu, penyesalan, kelucuan, renungan, ganjalan dalam hati.

Tanpa terasa, tibalah kami di depan tempat tinggalnya. Masih dihiasi rintik hujan, Ia menuntut kita berdua mengeluarkan ponsel.

"Jangan lupa, kita saling blokir."

"Aku belum pernah blokir orang."

"Kalo gitu aku bakal jadi yang pertama."

Seusainya, tak mampu lagi berlama-lama gadis itu bertahan di bangku penumpang. Ia melebarkan lengannya, memohon untuk terakhir kalinya, dekapan antara kita. Ku peluk erat badannya, kuusap rambutnya, dalam momen yang hanya berlangsung 5 detik itu, semesta terasa bagai menahan nafasnya. Sesingkat-singkatnya momen itu, begitu abadi rasanya membekas.

Ia pun melepas, mengucap hati-hati, dan menerjang rintik hujan yang masih tak kunjung berhenti. Barangkali pula, linangan air mata nya mengalir, menyatu dengan rintik-rintik air yang berjatuhan.

"Hujan malam itu takkan kembali lagi, dan begitu pula hubungan kita." -SeN, "Ame ni Yadorite" 

No comments:

Post a Comment