Thursday, November 13, 2025

Tak ada akhir cerita


Untuk beberapa waktu, ditengah masa produksi Lautan Bernyanyi, aku mencoba meyakinkan diriku untuk mensyukuri kelelahanku dengan menyamakan posisiku dengan Kyon di akhir film Disappearance of Haruhi Suzumiya.

Bahwa inilah akhir bahagia yang selama ini aku cari, bahwa aku juga pernah berikrar pada diriku sendiri bahwa kehampaan serta kekosongan dari absennya tuntutan tanggung jawab ketika aku gap-year di masa pandemi lebih buruk rasanya daripada rasa lelah bercampur adrenalin yang mengejar ketertinggalan tugas tanpa tidur ataupun istirahat untuk makan, atau sekedar mengatur nafas, selama 50 jam berturut-turut, dimana jantung berdegup sebegitu kencangnya, berpacu hingga ambang batasnya dan meronta minta diistirahatkan, rongga hidung saluran pernafasan yang terasa aus karena sudah terasa bahwa mimisan akan segera tiba.

Lagu ceria penutup adegan terakhir itu sempat kuulang-ulang, selama hampir 1 jam di sofa ruang tamu tempatku terkapar selama 3 jam sejak bangun tidur, tempatku tumbang pada dini hari setelah hariku usai mengkawal produksi pentas hingga pukul 3 pagi dan menempuh perjalanan 1 jam lagi pulang ke rumah.


Namun tidak ada akhir bahagia di kehidupan nyata, cerita kita akan terus berlangsung hingga hembusan nafas terakhir kita. Bahwa setelah menaklukkan tantangan yang amat sangat berat nan tangguh, datanglah kelegaan, mungkin juga perayaan akan usai nya ujian berat itu. Istirahat kita pun akhirnya bisa nyenyak, kedamaian tiba lah menyambut tidur kita, hingga kembalilah kebugaran dan kesegaran tubuh, dan hari-hari berikutnya akan selalu cerah hingga akhir waktu. Namun tantangan baru akan terus bermunculan, tidak ada yang namanya akhir bahagia. Tidak ada yang abadi, tidak pula hari akan selalu cerah setelah ujian yang berat. Badai akan selalu datang, durasinya beragam, dari yang hanya sekejap, hingga selama-lama yang ia kehendaki, yang bisa kita lakukan hanya menerjang maju dan bertahan hingga semua reda dan usai, lalu beristirahat bersiap untuk badai selanjutnya.

Aku terjebak bayang-bayang kejayaan masa lalu, terlalu meromantisasi kehangatan mentari seusai badai yang telah lalu, tidak sempat menyadari aku sudah diterjang badai lagi.

Thursday, November 6, 2025

Epsilon Eridani & Perasaan Yang Tak Berbalas

Kunamai kontaknya "Eridani", "Betelgeuse", bukan karena Ia berpendar bagai bintang malam, namun karena dalam game ponsel yang dahulu pernah aku mainkan selama SD, ada level-level dengan nama sama yang tak pernah mampu kucapai, hanya mampu kupandang opsinya yang terkunci selalu. Bagai memandang produk di etalase kaca, selamanya mereka berada diluar jangkauanku. Takkan pernah jadi milikku, hatinya.

Jika kita bertemu, kita berpelukan seperti dahulu. Jika kami sedang berdua, jemarinya menggenggam tanganku, telapak bertemu telapak seakan telah lama menjalin rasa. Jika Ia lelah, dengan mudahnya Ia bersandar di pundak ku, sesekali kutelusur helai-helai rambutnya diantara jemariku.

Jika Ia butuh tumpangan, ku bantu ketika jadwal kami tak berbenturan. Namun kupastikan musik yang berputar selama kami bersama, hanya musik dari masa ketika aku masih mengharap perasaanku berbalas. Hanadoki no Sora, Bokura no Seiza, Sayonara Blossom, takkan pernah kubiarkan berputar ketika bersamanya. Masa ku membuka hati padanya sudah usai, tak hendak aku memberi kesempatan lagi.