Thursday, March 26, 2026

Yang dituhankan dalam hati manusia

Beberapa waktu lalu, aku membuat sebuah hipotesa. Jika aku bisa menghafal lirik lagu sampai diluar kepala, apa sulitnya menghafal Al Quran secara mandiri?

Jadilah aku menyusun daftar, lagu-lagu yang liriknya telah kuhafal diluar kepala dan dapat kunyanyikan dari awal hingga akhir tanpa harus mendengarkan musik instrumen pengiringnya sedikitpun.

130 lagu jejepangan, 40 lagu indonesia, 30 lagu barat.

Apa sulitnya 6666 ayat?

* * *

Ketika aku memulai perjalanan ini, aku belum menyadarinya, tapi membuat daftar itu seolah menyadarkan aku bahwa semudah itu manusia dapat menuhankan sesuatu dalam hati mereka.

Umat islam di zaman Rasulullah tidak memiliki mushaf Al Quran yang lengkap hingga zaman kekhalifahan Utsman bin Affan, seluruh 6666 ayat Al Quran dulu hidup dalam hati setiap umat kala itu.

Aku pernah berpikir, hidup yang diabdikan pada agama dan akhirat tanpa bumbu-bumbuan hiburan duniawi, apakah tidak terasa hambar? Tidak mengikuti film terkini, musik terkini, apakah tidak terasa kosong? Namun rupanya tidak, karena agama semudah itu mengisi hati manusia hingga tumpah-meluap. Keresahan hati manusia modern berasal dari ketidakpastian yang dimiliki unsur duniawi, karena mereka menuhankan hal-hal yang tidak pantas dituhankan.

Orang-orang zaman dahulu memiliki prinsip hidup yang sangat asing dengan kita di zaman modern. Meski dihadapi keliaran alam semesta, mereka melangkah mantap dalam hidup mereka. Meski tak pernah pasti apa mereka akan dapat pulang dengan selamat kembali ke rumah dan orang yang mereka kasihi, mereka tegak dan gagah memperjuangkan hidup mereka. Tuhan kan bantu mereka melewati rintangan apapun, yang perlu mereka lakukan hanyalah berusaha sebisa mereka, membuktikan diri bahwa mereka pantas ditolong kekuatan ilahi, sekecil apapun bentuknya, dengan kebesaran Nya, pasti cukup untuk menolong mereka.

Entri ini agaknya cukup personal buatku, aku masih tak tahu apakah seluruh 6666 ayat itu akan berhasil aku hafalkan atau tidak. Namun aku yakin, menuhankan yang pantas untuk dituhankan adalah langkah yang tepat. Ketika aku merindukan dekapan Eridani kala dilanda sepi, aku tak lagi berputus asa. Karena Allah dekat, sangat dekat, selalu dalam jangkauan. Cinta Nya cukup untuk mengisi hatiku hingga melimpah ruah ketika aku mengizinkannya, maka akan kupersilahkan.

Tuhan izinkan aku untuk dapat terus merasakan nikmat beribadah.

Monday, February 9, 2026

Tinggallah dalam hujan

Rintik hujan menghiasi kaca di mobil, lampu kekuningan sepanjang jalanan Kota Lama menghiasi malam kami. Musik jamet berputar di stereo mobil, mengisi kesunyian antara kami berdua, mencoba mengalihkan suasana ke arah yang lebih jenaka nan ringan.

Namun tak satu pun dari kami dapat memungkiri, momen itu sureal, seakan kita sedang hanyut dalam dunia mimpi. Musik-musik itu tak dapat membising lebih keras dari realita yang sedang kami hadapi.

Di dunia yang ideal, malam itu tak pernah berakhir. Kami masih menyusuri kota Semarang, berhiaskan lampu malam dari gedung, kafe, kendaraan yang berpapasan, kami menceloteh hal yang telah lalu, penyesalan, kelucuan, renungan, ganjalan dalam hati.

Tanpa terasa, tibalah kami di depan tempat tinggalnya. Masih dihiasi rintik hujan, Ia menuntut kita berdua mengeluarkan ponsel.

"Jangan lupa, kita saling blokir."

"Aku belum pernah blokir orang."

"Kalo gitu aku bakal jadi yang pertama."

Seusainya, tak mampu lagi berlama-lama gadis itu bertahan di bangku penumpang. Ia melebarkan lengannya, memohon untuk terakhir kalinya, dekapan antara kita. Ku peluk erat badannya, kuusap rambutnya, dalam momen yang hanya berlangsung 5 detik itu, semesta terasa bagai menahan nafasnya. Sesingkat-singkatnya momen itu, begitu abadi rasanya membekas.

Ia pun melepas, mengucap hati-hati, dan menerjang rintik hujan yang masih tak kunjung berhenti. Barangkali pula, linangan air mata nya mengalir, menyatu dengan rintik-rintik air yang berjatuhan.

"Hujan malam itu takkan kembali lagi, dan begitu pula hubungan kita." -SeN, "Ame ni Yadorite"