Aku sudah tidak mendengarkan musik, masih sama seperti terakhir kali aku membicarakannya di entri yang lalu-lalu. Namun ketika satu berhala tumbang, yang lain akan menggantikan. Kurasa itu rangkaian kata yang tepat untuk menggambarkan situasiku.
Karena aku sekarang telah kembali mengunduh Twitter, setelah menghapusnya hampir berbulan-bulan yang lampau. Ada pemuas syahwat disana, ada pemancing syahwat disana, ada banyak hal yang menjerumuskan ke dosa disana.
Di Threads, aku disuguhkan selalu akan unggahan hadis-hadis, kajian islami, dan itu membuatku merasa tak pantas untuk selalu membukanya setiap saat. Barangkali suguhan-suguhan itu membuatnya mengadopsi karakteristik suatu kitab, menjadi simbolisasi tobat dan akidah bagiku. Dan tobat sepenuhnya terasa jauh lebih berat ketimbang berangsur-angsur memperbaiki akidah.
Dan... yang paling tak ku duga, Eridani. Wanita itu sekarang menjadi pacarku, pujaan hati yang membalas cintaku. Hati kami yang saling memuja, meski diniatkan untuk tetap berada di jalan yang lurus, turbulensi yang kami rasakan begitu kuatnya hingga kami jatuh dan bangun dalam kubangan dosa. Sebagian hatiku bersyukur, atas firman tuhanku yang memasang-masangkan hambanya secara setara akidahnya. Namun sebagian lagi malu, bergejolak dalam hati ini, akan hasratku untuk terus memuja wanita itu, sedang tuhanku aku tinggalkan untuknya yang telah Dia titipkan padaku.
Aku... masih menghafalkan juz amma sebagai ganti dari hobi menghafal lirik lagu dan mendengarkan musik itu. Aku tak tahu apakah aku akan dapat menghafal keseluruhan isi buku itu, namun aku masih berusaha, setapak demi setapak.
Tapi yang kusadari, musik dapat kudengarkan dan kuputar dimana saja. Dimobil, di rumah, sambil menyetir, sambil berkegiatan. Namun tidak dengan bacaan Al-Quran. Ada suatu beban, sesuatu yang menahanku dari memutarnya di rumah, selalu ia hanya di mobil, tak pernah dirumah, tak pernah sambil berkegiatan. Aku tak yakin apa ada cara yang tepat untuk membenahi hal itu.
Pencapaian :
- A'la
Di Threads, aku disuguhkan selalu akan unggahan hadis-hadis, kajian islami, dan itu membuatku merasa tak pantas untuk selalu membukanya setiap saat. Barangkali suguhan-suguhan itu membuatnya mengadopsi karakteristik suatu kitab, menjadi simbolisasi tobat dan akidah bagiku. Dan tobat sepenuhnya terasa jauh lebih berat ketimbang berangsur-angsur memperbaiki akidah.
Dan... yang paling tak ku duga, Eridani. Wanita itu sekarang menjadi pacarku, pujaan hati yang membalas cintaku. Hati kami yang saling memuja, meski diniatkan untuk tetap berada di jalan yang lurus, turbulensi yang kami rasakan begitu kuatnya hingga kami jatuh dan bangun dalam kubangan dosa. Sebagian hatiku bersyukur, atas firman tuhanku yang memasang-masangkan hambanya secara setara akidahnya. Namun sebagian lagi malu, bergejolak dalam hati ini, akan hasratku untuk terus memuja wanita itu, sedang tuhanku aku tinggalkan untuknya yang telah Dia titipkan padaku.
Aku... masih menghafalkan juz amma sebagai ganti dari hobi menghafal lirik lagu dan mendengarkan musik itu. Aku tak tahu apakah aku akan dapat menghafal keseluruhan isi buku itu, namun aku masih berusaha, setapak demi setapak.
Tapi yang kusadari, musik dapat kudengarkan dan kuputar dimana saja. Dimobil, di rumah, sambil menyetir, sambil berkegiatan. Namun tidak dengan bacaan Al-Quran. Ada suatu beban, sesuatu yang menahanku dari memutarnya di rumah, selalu ia hanya di mobil, tak pernah dirumah, tak pernah sambil berkegiatan. Aku tak yakin apa ada cara yang tepat untuk membenahi hal itu.
Pencapaian :
- A'la
- Ghasiyah
- Bayyinah
- Layl
- Syams
- Infitar
- Alaq
Hafalan terkini :
- Insyiqaq
Hafalan terkini :
- Insyiqaq
- Tariq