Aku masih hafal liriknya, hampir semua. Mungkin dengan sedikit typo, tapi aku masih hafal, dan aku bernyanyi mengiringi vokal musik-musik itu. Dan aku sungguh senang, bisa melantunkan lagu-lagu itu dengan suaraku lagi, dengan semangat, dan tulus.
Sambil menyusuri jalan semarang yang macet di sore hari yang berlangit oranye, aku terkesima oleh suasananya, namun juga sedih, akan apa yang sudah kuperbuat. Musik itu haram, putus ku beberapa bulan lalu, saat aku meniatkan untuk hanya melantunkan senandung yang berkaitan dengan ayat-ayat suci. Kemudian aku melakukan dosa yang jauh lebih buruk dari musik, hingga solatku kembali bolong, hingga aku menjauh dari lantunan ayat-ayat suci yang selalu ku singalong kan dalam perjalanan berangkat dan pulang kampus sehari-hari.
Aku merasa tak pantas, aku merasa hina untuk menghadap tuhanku, meski di Az Zumar ayat 53 Ia telah berfirman untuk tidak berputus asa bahkan setelah melampaui batas, aku masih tak sanggup. Tidak ketika belum ada penyesalan di hatiku. Aku tak ingin hanya sujud dan bangun berulang-ulang tanpa hati yang resah menyesali perbuatanku.
Namun itu yang Ia minta, untuk kembali pada Nya.
Dan aku merasa sangat hina, ketika ia masih mencintaiku, masih menjemputku lewat berbagai cara yang ia bisa, menggunakan segala yang ada di alam semesta nya. Instrumen maksiatku, dengan kuasaNya, bisa ia gunakan untuk kembali padaNya.
Tanda demi tanda Ia jajarkan didepanku, untuk kembali pada Nya. Untuk mengingatkan aku, bahwa Ia ada, bahwa Ia hadir, bahwa Ia menantikan aku.
Sedangkan aku masih begitu lancang, begitu hina, mulai menulis entri ini di waktu menjelang isya ketika aku belum solat magrib, dan memaksa diri untuk menulis sebagian besar tulisan ini di waktu yang sudah hampir isya.
Dan masih merasa sangat hina, namun tanpa rasa sesal, ketika instrumen maksiatku mengabarkan sebuah celah untuk kembali bermaksiat, setelah aku hampir selesai menulis entri ini, ketika hatiku berbunga menantikan saat celah itu tiba.