Wednesday, August 12, 2026

Berdosa tanpa sesal

Hari ini aku mendengarkan, Star star start, sayonara blossom, komorebi no yell, amenochi no futari, negai wo katachi, dan snow letter... dan lease past and now.

Aku masih hafal liriknya, hampir semua. Mungkin dengan sedikit typo, tapi aku masih hafal, dan aku bernyanyi mengiringi vokal musik-musik itu. Dan aku sungguh senang, bisa melantunkan lagu-lagu itu dengan suaraku lagi, dengan semangat, dan tulus.

Sambil menyusuri jalan semarang yang macet di sore hari yang berlangit oranye, aku terkesima oleh suasananya, namun juga sedih, akan apa yang sudah kuperbuat. Musik itu haram, putus ku beberapa bulan lalu, saat aku meniatkan untuk hanya melantunkan senandung yang berkaitan dengan ayat-ayat suci. Kemudian aku melakukan dosa yang jauh lebih buruk dari musik, hingga solatku kembali bolong, hingga aku menjauh dari lantunan ayat-ayat suci yang selalu ku singalong kan dalam perjalanan berangkat dan pulang kampus sehari-hari.

Aku merasa tak pantas, aku merasa hina untuk menghadap tuhanku, meski di Az Zumar ayat 53 Ia telah berfirman untuk tidak berputus asa bahkan setelah melampaui batas, aku masih tak sanggup. Tidak ketika belum ada penyesalan di hatiku. Aku tak ingin hanya sujud dan bangun berulang-ulang tanpa hati yang resah menyesali perbuatanku.

Namun itu yang Ia minta, untuk kembali pada Nya.

Dan aku merasa sangat hina, ketika ia masih mencintaiku, masih menjemputku lewat berbagai cara yang ia bisa, menggunakan segala yang ada di alam semesta nya. Instrumen maksiatku, dengan kuasaNya, bisa ia gunakan untuk kembali padaNya.

Tanda demi tanda Ia jajarkan didepanku, untuk kembali pada Nya. Untuk mengingatkan aku, bahwa Ia ada, bahwa Ia hadir, bahwa Ia menantikan aku.

Sedangkan aku masih begitu lancang, begitu hina, mulai menulis entri ini di waktu menjelang isya ketika aku belum solat magrib, dan memaksa diri untuk menulis sebagian besar tulisan ini di waktu yang sudah hampir isya.

Dan masih merasa sangat hina, namun tanpa rasa sesal, ketika instrumen maksiatku mengabarkan sebuah celah untuk kembali bermaksiat, setelah aku hampir selesai menulis entri ini, ketika hatiku berbunga menantikan saat celah itu tiba.


Tuesday, August 4, 2026

Krisis Ditengah Liburan

Waktu berjalan begitu cepat, semakin cepat, namun entah kenapa hari-hari yang kujalani kini terasa lebih lambat dari apapun yang sudah kualami sebelumnya.

Ia membiarkanku diam dan termenung, akan apa yang hendak kulakukan, akan apa yang telah aku lakukan, dan membiarkanku meresapi semuanya.

Akan penyesalan, akan pencapaian (atau ketiadaannya), akan tujuan. Hendak kemana aku? Hendak kubawa kemana diri ini? Hendak kuapakan sisa umurku?

Aku merasa kembali jadi anak kecil yang baru beranjak dewasa di tengah pandemi itu, yang mata serta hatinya berbinar menyaksikan film Walter Mitty yang diperankan Ben Stiller. Yang terus menerus, berulang-ulang mempertanyakan, hendak jadi apa aku?


Wednesday, June 24, 2026

Gunung piring, gelas dan jamur busuk

Pekerjaan rumah paling sulit seorang yang tinggal sebatang kara dan hanya bisa membersihkan tempat tinggalnya di akhir pekan serta menderita disfungsi eksekutif adalah cucian piringnya ketika telah menggunung.

Ia tahu jika belum ada gunung, maka bersantai masih lah enteng. Namun jika piring dan gelas kotor sudah menggunung, hendaknya segera ditangani sebelum tergempur tugas-tugas yang lain, yang akan memaksa gunung itu terus meninggi sepanjang pekan berikutnya. Ketika gunung itu telah menjulang sebegitu tinggi nya, tugas itu terasa semakin berat dan semakin sulit untuk mengumpulkan motivasi membereskannya. Lebih mudah untuk menyerahkannya pada diri masa yang akan datang, yang merupakan tindakan tak bertanggung jawab.

Ketika gunung itu berdiri, tak ada lagi yang lebih penting dari gunung itu. Semua harus menjadi taruhan yang semua-atau-tidak-sama-sekali. Tidak ada tugas yang lebih penting dari gunung itu, karena ia telah menanti ditangani sejak berminggu-minggu yang lalu ketimbang tugas-tugas lainnya. Lantai yang berdebu, pakaian yang belum masuk keranjang cucian, halaman yang penuh daun kering, noda di dapur, meja makan yang kotor, semua itu bisa dibereskan dalam 10 menit. Cucian piring? Itu adalah gunung, dan meratakan gunung butuh waktu hingga berbulan-bulan kerja tanpa libur.

Semua pekerjaan lain yang lebih kecil berada di balik gunung itu, dihadang oleh gunung itu, dan tidak ada jalan lain.

Sunday, June 21, 2026

pasang surut iman

Aku merasa, sebegitu mudahnya iman ku rontok. Yang awalnya kuniatkan untuk kembali ke jalan yang lurus, dengan entengnya kembali berbelok. Melewatkan solat subuh, diperbudak hawa nafsu, menyia-nyiakan waktu, menunda ibadah dengan apapun itu alasannya. 

Aku tekadkan diriku untuk tidak lagi mendengarkan musik, namun sesekali terputar musik di latar suara reels IG yang muncul di beranda ku, dan sesekali aku menjadi rindu sekali, meski hanya sesaat. Akan syahdu nya lagu Komorebi no Yell, jingkatan penuh energi yang diajak oleh Star Star Start, dan berbagai macam lagu yang telah kutinggalkan.

Lalu, ketika membahas perkara buang-buang waktu, aku tidak yakin harus mulai dari mana. Aku tentu saja tahu, semua berakar di gadget digital, media sosial, pembaruan status di beranda, pilihan tontonan di Youtube yang tak pernah habis, tidak hanya menunda waktu, tapi juga pemancing syahwat. Sehingga, sesungguhnya, yang perlu kurelakan adalah semua itu, yang terasa begitu banyak, dan belum tega ku tinggalkan secara sekaligus.

Barangkali, alih-alih meninggalkannya sebagaimana yang kulakukan pada musik, yang bisa kulakukan adalah berjalan berdampingan dengan nya. Perlahan menggeser sedikit porsinya dan menggantinya dengan hal lain yang lebih bermanfaat, seperti mencuci piring, mencuci baju, barangkali. Aku masih tidak yakin, metode paling ideal untuk menangani masalah ku yang satu ini. Tidak pantas meninggalkan cucian piring membusuk hingga 3 minggu, tidak pantas meninggalkan makanan di atas meja makan hingga koloni semut rumah menghabiskan apa yang selalu ada di meja, hingga mereka terbiasa berpatroli diatasnya untuk mencari makanan sisa terbaru. Banyak hal yang tak pantas yang kubiarkan terjadi dirumah, yang kubiarkan terjadi pada imanku, begitu banyak.

Aku ingin semua ini lebih enteng, aku ingin lebih bersih, aku ingin bisa disiplin, beriman, dan menghargai waktu, dan tidak malas.

Pencapaian :

- Original series
- - Al Ikhlas
- - An Naas
- - Al Falaq
- - Al Kautsar
- - Al Asr
- - Al Kafirun
- - Al Lahab
- - Al Fiil
- - Al Maun
- - An Nasr
- - Al Humazah
- - At Takatsur

- Nightfall series
- - Ad Dhuha
- - Al Quraisy
- - Al Qadr
- - Al Insyirah

- Midnight series
- - Al Adiyat
- - Al Zalzalah
- - At Tin
- - Al Bayinah

- Daybreak series
- - Al A'la
- - Al Ghasiyah
- - Al Layl
- - As Syams
- - Al Infitar
- - Al Alaq
- - Al Insyiqaq
- - At Tariq

Hafalan :
- Al Buruj
- At Takwir

Sunday, June 7, 2026

Menyekutukan tuhan dalam hatiku

Setelah melewati gejolak spiritual yang sebegitu dahsyatnya, mempertahankan iman itu pun pada akhirnya akan jadi rutinitas yang biasa saja. Barangkali itu yang terjadi, barangkali aku goyah, bahkan sebelum hal itu menjadi biasa. Itu mungkin hal yang baik, aku jadi tak pernah benar-benar muak dengan keimanan yang harus dijaga, karena selalu ada hal baru untuk mengalihkan perhatianku darinya.

Aku sudah tidak mendengarkan musik, masih sama seperti terakhir kali aku membicarakannya di entri yang lalu-lalu. Namun ketika satu berhala tumbang, yang lain akan menggantikan. Kurasa itu rangkaian kata yang tepat untuk menggambarkan situasiku.

Karena aku sekarang telah kembali mengunduh Twitter, setelah menghapusnya hampir berbulan-bulan yang lampau. Ada pemuas syahwat disana, ada pemancing syahwat disana, ada banyak hal yang menjerumuskan ke dosa disana.

Di Threads, aku disuguhkan selalu akan unggahan hadis-hadis, kajian islami, dan itu membuatku merasa tak pantas untuk selalu membukanya setiap saat. Barangkali suguhan-suguhan itu membuatnya mengadopsi karakteristik suatu kitab, menjadi simbolisasi tobat dan akidah bagiku. Dan tobat sepenuhnya terasa jauh lebih berat ketimbang berangsur-angsur memperbaiki akidah.

Dan... yang paling tak ku duga, Eridani. Wanita itu sekarang menjadi pacarku, pujaan hati yang membalas cintaku. Hati kami yang saling memuja, meski diniatkan untuk tetap berada di jalan yang lurus, turbulensi yang kami rasakan begitu kuatnya hingga kami jatuh dan bangun dalam kubangan dosa. Sebagian hatiku bersyukur, atas firman tuhanku yang memasang-masangkan hambanya secara setara akidahnya. Namun sebagian lagi malu, bergejolak dalam hati ini, akan hasratku untuk terus memuja wanita itu, sedang tuhanku aku tinggalkan untuknya yang telah Dia titipkan padaku.

Aku... masih menghafalkan juz amma sebagai ganti dari hobi menghafal lirik lagu dan mendengarkan musik itu. Aku tak tahu apakah aku akan dapat menghafal keseluruhan isi buku itu, namun aku masih berusaha, setapak demi setapak.

Tapi yang kusadari, musik dapat kudengarkan dan kuputar dimana saja. Dimobil, di rumah, sambil menyetir, sambil berkegiatan. Namun tidak dengan bacaan Al-Quran. Ada suatu beban, sesuatu yang menahanku dari memutarnya di rumah, selalu ia hanya di mobil, tak pernah dirumah, tak pernah sambil berkegiatan. Aku tak yakin apa ada cara yang tepat untuk membenahi hal itu.

Pencapaian :
- A'la
- Ghasiyah
- Bayyinah
- Layl
- Syams
- Infitar
- Alaq

Hafalan terkini :
- Insyiqaq
- Tariq

Sunday, April 12, 2026

Yang kutuhankan dalam hatiku

Ketika hati resah, gelisah seusai berbuat dosa, ketika terbersit keinginan untuk mengobati sesak dalam hati itu dengan musik, ketika itu lah tuhan sedang memanggilku, untuk kembali ke jalanNya.


Aku tak lagi mendengarkan musik, tak lagi aku mendengarkan nyanyian Tokino Sora, atau Teio dan Mcqueen di lagu Komorebi no Yell mereka, atau Suisei di 3:12 nya.

Akan kulayakkan diriku untuk melantunkan kembali ayat-ayat Nya. Hanya kepada Nya lah aku kembali, hanya kepada Nya lah aku meminta pertolongan.

Saturday, April 4, 2026

Membandingkan Saturnus dan Epsilon Eridani

Barangkali yang sedang kuhadapai saat ini merupakan ujian, atau jawaban dari doaku.

Apakah, Eridani, sungguh orang yang tepat untuk menemaniku di dunia dan akhirat? Ketika ku lihat kembali rekam jejak kami, tidak kah sungguh tabah ia menghadapi apa-apa ku disaat sulit. Dan ia masih kembali padaku ketika aku mencarinya sekembalinya logika ku, apakah aku telah menyia-nyiakan afeksinya padaku?

Ketika aku bersama Eridani, cukup sering pula aku bercengkerama dengan Saturnus. Kala itu aku yakin, hubungan bersama Eridani takkan bertahan. Meski akhirnya kami bertahan lebih lama dari yang kukira. Namun Saturnus terlihat seperti kandidat yang ideal untuk menjalani sisa hidup, hingga menuju akhirat. Jebolan pondok, berpakaian syar'i, mahasiswa kelas unggulan, pertukaran pelajar ke UGM, orang yang sangat keren. Dan, terlebih lagi, jurusan Teknik Informatika, logikanya pasti encer.

Namun kemudian berlangsung lama jangka waktu ku tak bertukar kabar dengannya. Ketika aku menanyakan keadaannya, ia berada dalam kondisi yang tak kusangka dapat ia alami. Terombang-ambing tak tentu arah setelah menyelesaikan studinya di Jiran dan menunggu wisuda, ia singkat bercerita sehari-harinya belakangan dihabiskan di kamar, tak hendak bergerak, tak memiliki cukup niatan untuk membenahi kondisinya.

Ketika aku menulis paragraf itu, aku menyadari kekuranganku sebagai manusia yang penuh perhitungan dan penilaian, prasangka, seenteng itu menilai dirinya, kepribadiannya.

Barangkali yang ia butuhkan adalah seseorang untuk menjaminnya, menemaninya, bahwa semua akan baik-baik saja, bahwa semua akan membaik jika ia menanti dan mengejar hari yang lebih baik itu. Namun aku tak mampu menjadi orang itu, apalagi hanya lewat teks.

Ketika kubandingkan dengan hari-hariku yang sungguh kelam di beberapa tahun terakhir, dan bagaimana Eridani selalu disana, siap meladeni pesimisme ku kala itu, kupikir, "Apakah aku telah sungguh menyia-nyiakan wanita setangguh itu? Wanita setangguh itu, yang mati-matian mengejarku????" 

Namun kembali lagi aku berpikir, jika aku sungguh serius mengejar dunia dan akhirat, apakah Eridani siap melangkah dengan ritme yang sama denganku? Dengan gaya hidupnya yang masih urakan, apakah ia bisa merelakan kenikmatan dunia untuk mengejar akhirat bersamaku?

Apakah aku harus mulai memikirkan hal ini sejak kini? Atau haruskah aku menunda pertimbangan ini hingga kelak ketika aku mapan?

Aku... tak tahu.

Barangkali pula, jawaban yang disiapkan Allah untukku bukan keduanya.

Thursday, March 26, 2026

Yang dituhankan dalam hati manusia

Beberapa waktu lalu, aku membuat sebuah hipotesa. Jika aku bisa menghafal lirik lagu sampai diluar kepala, apa sulitnya menghafal Al Quran secara mandiri?

Jadilah aku menyusun daftar, lagu-lagu yang liriknya telah kuhafal diluar kepala dan dapat kunyanyikan dari awal hingga akhir tanpa harus mendengarkan musik instrumen pengiringnya sedikitpun.


Apa sulitnya 6666 ayat?

* * *

Ketika aku memulai perjalanan ini, aku belum menyadarinya, tapi membuat daftar itu seolah menyadarkan aku bahwa semudah itu manusia dapat menuhankan sesuatu dalam hati mereka.

Umat islam di zaman Rasulullah tidak memiliki mushaf Al Quran yang lengkap hingga zaman kekhalifahan Utsman bin Affan, seluruh 6666 ayat Al Quran dulu hidup dalam hati setiap umat kala itu.

Aku pernah berpikir, hidup yang diabdikan pada agama dan akhirat tanpa bumbu-bumbuan hiburan duniawi, apakah tidak terasa hambar? Tidak mengikuti film terkini, musik terkini, apakah tidak terasa kosong? Namun rupanya tidak, karena agama semudah itu mengisi hati manusia hingga tumpah-meluap. Keresahan hati manusia modern berasal dari ketidakpastian yang dimiliki unsur duniawi, karena mereka menuhankan hal-hal yang tidak pantas dituhankan.

Orang-orang zaman dahulu memiliki prinsip hidup yang sangat asing dengan kita di zaman modern. Meski dihadapi keliaran alam semesta, mereka melangkah mantap dalam hidup mereka. Meski tak pernah pasti apa mereka akan dapat pulang dengan selamat kembali ke rumah dan orang yang mereka kasihi, mereka tegak dan gagah memperjuangkan hidup mereka. Tuhan kan bantu mereka melewati rintangan apapun, yang perlu mereka lakukan hanyalah berusaha sebisa mereka, membuktikan diri bahwa mereka pantas ditolong kekuatan ilahi, sekecil apapun bentuknya, dengan kebesaran Nya, pasti cukup untuk menolong mereka.

Entri ini agaknya cukup personal buatku, aku masih tak tahu apakah seluruh 6666 ayat itu akan berhasil aku hafalkan atau tidak. Namun aku yakin, menuhankan yang pantas untuk dituhankan adalah langkah yang tepat. Ketika aku merindukan dekapan Eridani kala dilanda sepi, aku tak lagi berputus asa. Karena Allah dekat, sangat dekat, selalu dalam jangkauan. Cinta Nya cukup untuk mengisi hatiku hingga melimpah ruah ketika aku mengizinkannya, maka akan kupersilahkan.

Tuhan izinkan aku untuk dapat terus merasakan nikmat beribadah.

Monday, February 9, 2026

Tinggallah dalam hujan

Rintik hujan menghiasi kaca di mobil, lampu kekuningan sepanjang jalanan Kota Lama menghiasi malam kami. Musik jamet berputar di stereo mobil, mengisi kesunyian antara kami berdua, mencoba mengalihkan suasana ke arah yang lebih jenaka nan ringan.

Namun tak satu pun dari kami dapat memungkiri, momen itu sureal, seakan kita sedang hanyut dalam dunia mimpi. Musik-musik itu tak dapat membising lebih keras dari realita yang sedang kami hadapi.

Di dunia yang ideal, malam itu tak pernah berakhir. Kami masih menyusuri kota Semarang, berhiaskan lampu malam dari gedung, kafe, kendaraan yang berpapasan, kami menceloteh hal yang telah lalu, penyesalan, kelucuan, renungan, ganjalan dalam hati.

Tanpa terasa, tibalah kami di depan tempat tinggalnya. Masih dihiasi rintik hujan, Ia menuntut kita berdua mengeluarkan ponsel.

"Jangan lupa, kita saling blokir."

"Aku belum pernah blokir orang."

"Kalo gitu aku bakal jadi yang pertama."

Seusainya, tak mampu lagi berlama-lama gadis itu bertahan di bangku penumpang. Ia melebarkan lengannya, memohon untuk terakhir kalinya, dekapan antara kita. Ku peluk erat badannya, kuusap rambutnya, dalam momen yang hanya berlangsung 5 detik itu, semesta terasa bagai menahan nafasnya. Sesingkat-singkatnya momen itu, begitu abadi rasanya membekas.

Ia pun melepas, mengucap hati-hati, dan menerjang rintik hujan yang masih tak kunjung berhenti. Barangkali pula, linangan air mata nya mengalir, menyatu dengan rintik-rintik air yang berjatuhan.

"Hujan malam itu takkan kembali lagi, dan begitu pula hubungan kita." -SeN, "Ame ni Yadorite" 

Sunday, December 14, 2025

Satu lelucon terakhir

Adalah sebuah lelucon tingkat kosmik, untuk memperoleh suvenir ini.


Suvenir yang diperuntukkan Daus kepada Epsilon Eridani, rekan lama dari masa produksi 2023-2024, yang sempat membuat hatinya berbunga ketika berkonsultasi sekaligus sambat dan curhat padanya terkait birokrasi kampus dan sebagainya terkait manajemen organisasi ketika awal menjabat pemimpin. Namun karena tidak berkabar bahwa Ia KKN ke Bali, rekan kami yang memasang foto bunga matahari sebagai foto profil instagram nya itu tidak meributkan menuntut dibelikan suvenir, sehingga tak perlu sedari awal ia berikan suvenir itu pada nya. Suvenir berupa tempelan kulkas bunga matahari, yang seharusnya diberikan pada nya, berakhir padaku.

*This happens after me & Eridani were no longer on speaking terms.

Thursday, November 13, 2025

Tak ada akhir cerita


Untuk beberapa waktu, ditengah masa produksi Lautan Bernyanyi, aku mencoba meyakinkan diriku untuk mensyukuri kelelahanku dengan menyamakan posisiku dengan Kyon di akhir film Disappearance of Haruhi Suzumiya.

Bahwa inilah akhir bahagia yang selama ini aku cari, bahwa aku juga pernah berikrar pada diriku sendiri bahwa kehampaan serta kekosongan dari absennya tuntutan tanggung jawab ketika aku gap-year di masa pandemi lebih buruk rasanya daripada rasa lelah bercampur adrenalin yang mengejar ketertinggalan tugas tanpa tidur ataupun istirahat untuk makan, atau sekedar mengatur nafas, selama 50 jam berturut-turut, dimana jantung berdegup sebegitu kencangnya, berpacu hingga ambang batasnya dan meronta minta diistirahatkan, rongga hidung saluran pernafasan yang terasa aus karena sudah terasa bahwa mimisan akan segera tiba.

Lagu ceria penutup adegan terakhir itu sempat kuulang-ulang, selama hampir 1 jam di sofa ruang tamu tempatku terkapar selama 3 jam sejak bangun tidur, tempatku tumbang pada dini hari setelah hariku usai mengkawal produksi pentas hingga pukul 3 pagi dan menempuh perjalanan 1 jam lagi pulang ke rumah.


Namun tidak ada akhir bahagia di kehidupan nyata, cerita kita akan terus berlangsung hingga hembusan nafas terakhir kita. Bahwa setelah menaklukkan tantangan yang amat sangat berat nan tangguh, datanglah kelegaan, mungkin juga perayaan akan usai nya ujian berat itu. Istirahat kita pun akhirnya bisa nyenyak, kedamaian tiba lah menyambut tidur kita, hingga kembalilah kebugaran dan kesegaran tubuh, dan hari-hari berikutnya akan selalu cerah hingga akhir waktu. Namun tantangan baru akan terus bermunculan, tidak ada yang namanya akhir bahagia. Tidak ada yang abadi, tidak pula hari akan selalu cerah setelah ujian yang berat. Badai akan selalu datang, durasinya beragam, dari yang hanya sekejap, hingga selama-lama yang ia kehendaki, yang bisa kita lakukan hanya menerjang maju dan bertahan hingga semua reda dan usai, lalu beristirahat bersiap untuk badai selanjutnya.

Aku terjebak bayang-bayang kejayaan masa lalu, terlalu meromantisasi kehangatan mentari seusai badai yang telah lalu, tidak sempat menyadari aku sudah diterjang badai lagi.

Thursday, November 6, 2025

Epsilon Eridani & Perasaan Yang Tak Berbalas

Kunamai kontaknya "Eridani", "Betelgeuse", bukan karena Ia berpendar bagai bintang malam, namun karena dalam game ponsel yang dahulu pernah aku mainkan selama SD, ada level-level dengan nama sama yang tak pernah mampu kucapai, hanya mampu kupandang opsinya yang terkunci selalu. Bagai memandang produk di etalase kaca, selamanya mereka berada diluar jangkauanku. Takkan pernah jadi milikku, hatinya.

Jika kita bertemu, kita berpelukan seperti dahulu. Jika kami sedang berdua, jemarinya menggenggam tanganku, telapak bertemu telapak seakan telah lama menjalin rasa. Jika Ia lelah, dengan mudahnya Ia bersandar di pundak ku, sesekali kutelusur helai-helai rambutnya diantara jemariku.

Jika Ia butuh tumpangan, ku bantu ketika jadwal kami tak berbenturan. Namun kupastikan musik yang berputar selama kami bersama, hanya musik dari masa ketika aku masih mengharap perasaanku berbalas. Hanadoki no Sora, Bokura no Seiza, Sayonara Blossom, takkan pernah kubiarkan berputar ketika bersamanya. Masa ku membuka hati padanya sudah usai, tak hendak aku memberi kesempatan lagi.

Sunday, October 12, 2025

Aku ingin memaknai hal-hal yang kulakukan

2023 lalu, setelah postingan terakhirku, antara bulan september dan desember, banyak hal terjadi. Hal-hal yang tak sempat kutulis disini, mungkin suatu hari nanti. Namun aku ingin membagikan sebuah anekdot yang baru saja terlintas dalam benakku, seperti ilham yang tiba-tiba menyambar begitu saja.

Kala itu masa perekrutan anggota baru, aku ditugaskan membuat poster promosi UKM Teater, tanpa menggunakan laptopku, karena saat itu sedang di pinjam. Itu cerita yang sangat panjang pula, namun bukan itu fokus yang kali ini hendak aku sorot.

Karena di hari-hari itu, aku meminjam laptop kesana kemari mengerjakan poster itu. Sohibku kala itu yang pernah sekelas bersama di semester 1 dan 2, Bima bersama tongkrongannya. Dan Fio, teman sekelasku selama SMP, di Manggar. 3 tahun lebih telah berlalu sejak terakhir kita menyempatkan bertemu di bangku SMA kelas 10, dan pertemuan pertama kami setelahnya sejak itu adalah karena aku butuh laptopnya untuk mengerjakan poster promosi UKM Teater yang bahkan tak pernah ia dengar sebelumnya.

Roda mobilku terperosok selokan jam 12 malam tepat didepan kosnya ketika aku hendak parkir untuk menggunakan laptopnya mengerjakan poster itu, seluruh penghuni kos didepan selokan itu berduyun-duyun keluar semuanya mendengar suara keras mobilku menghantam tanah ketika roda itu amblas ke selokan, jam 12 malam. Itu sungguh malam yang panjang.

Satu setengah jam habis malam itu mengeluarkan roda dari selokan dan menggantinya dengan ban cadangan karena yang asli sobek ketika aku mencoba menekan pedal terlalu kencang untuk membebaskan diri. Kemudian aku mengerjakan poster semalam suntuk hingga pukul 7 pagi, dimana aku langsung pamit karena menjadi pengurus Teater kala itu memang sungguh sesibuk itu.

Namun bukan itu pula yang hendak aku sorot dari lika-liku kecil ini.

Setelah kembali dari UNNES, tempat kos Fio berada, Arya bertanya mengapa tidak meminjam laptop miliknya saja? Mengapa harus jauh-jauh ke UNNES? Dan kala itu aku merasa bodoh karena inefisiensinya, namun kurasa sekarang aku telah menemukan jawaban sesungguhnya.

Aku mencari makna, makna dari penugasan yang sungguh berat itu. Makna yang dapat beresonansi dengan hatiku, karena begitulah aku selalu hendak menjalani hidupku kala itu. Aku meminjam laptop Fio, laptop Bima, karena aku tahu aku dapat bersandar pada mereka, karena aku tahu mereka peduli padaku sebagaimana aku peduli mereka. Bukan berarti rekan-rekan di Teater sepenuhnya tidak peduli nasibku, namun tanggung jawab yang dilimpahkan dari UKM sungguh telah menyita begitu banyak waktuku, waktu kami, hingga tak ada senggang kami yang tersisa untuk bersantai, tak ada senggang yang tersisa untuk menjaga tali silaturahmi kami yang menguntai keluar Teater, aku rindu kedekatan-kedekatan yang telah lebih dulu kuperoleh diluar itu. Aku ingin terus mendekapnya, bagaimana pun caranya, bahkan jika harus menyeret tanggung jawabku keluar jauh dari lingkungan Teater. Bahkan jika aku harus bersusah, akan ku rela, karena aku sungguh rindu, aku mendamba bisa bersama mereka-mereka lagi.

Namun aku hari itu masih belum tahu, seberapa jauh lagi Teater akan membawaku pergi dari orang-orang yang kukasihi.

Yang tersisa hari ini, obrolan grup yang selalu ramai setiap hari, namun karena aku tak pernah hadir di perkumpulan mereka, karena aku terlalu sibuk dengan Teater, aku tak dapat mengikuti lelucon dan obrolan terbaru mereka.

Sama saja tak diikutsertakan dalam obrolan grup, anggota bayangan, tidak nyata, terasingkan.

Dan yang kuperoleh dengan menjaga loyalitasku pada UKM Teater, kedirian yang luluhlantak sepenuhnya karena kuberikan seluruh jiwa ragaku, dan UKM Teater tidak pernah mengganjarnya, mengapresiasi dedikasi yang telah kupersembahkan. Ia terus menuntut, menuntut, dan menuntut, dan aku terus memberi, memberi, dan memberi. Waktu tidurku, istirahatku, kawan-kawanku, nilai ujianku, tugas-tugasku, hari liburku, dan setelah semua yang kuberikan, masih kurang. UKM Teater belum berjaya, pementasan setelah proses produksi selama 5 bulan menghasilkan performa yang masih tidak maksimal, tuntutannya tak pernah usai, dan aku yang bagai domba kala itu digembalakan sedemikian rupa dengan dogma kekeluargaan.

Aku rindu kawan-kawanku, mana saja. 

Monday, October 6, 2025

Jawabannya bukan membuang ponsel

Kabel pengisi daya ponselku hilang, beruntungnya aku masih dapat mengakses pesan-pesan lewat komputer jinjing. Namun itu juga berarti akses ke seluruh penjuru internet, waktu yang terbuang tidak terasa buruk, itu salah. Sungguh salah, aku belum sarapan karena terlalu sibuk mengutak atik komputer, sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 18:49.

Dalam buku harianku, sempat kutulis, "Pekerjaan beberes rumah bukan suatu capaian, atau rintangan yang harus ditaklukkan. Namun bentuk terima kasih atas struktur rumah yang telah melindungi penghuninya dari ganasnya cuaca alam luar, itu adalah adab yang baik dan sudah sepantasnya dilaksanakan. Mencuci piring sendok garpu gelas yang kotor bukanlah sosok antagonis yang harus dikalahkan, namun bentuk rasa syukur terhadap jasanya yang telah membantu pemiliknya dapat makan dengan praktis dan nyaman. (...) Memasak air dengan kompor dan menyiapkan wadah gelasnya, menunggu airnya panas hingga menuangkannya dengan corong kedalam botol gelas, hanya demi minum air hangat karena air galon sudah habis dan yang tersisa dirumah hanyalah air botol kemasan, membuatku merasa lebih hidup daripada hanya menekan tombol dispenser. Kehidupan modern telah merenggut momen-momen kecil itu dariku, momen-momen yang memberi makna pada tiap tarikan nafasku melawan keringnya radang tenggorokan."

Memaknai setiap tarikan nafas, ingin aku lakukan, namun sepertinya tidak mungkin dengan kehidupan ini. Ponselku masih mati, sejak semalam. Ini memperburuk keadaan karena aku memiliki komputer yang jauh lebih mampu menarik perhatianku dari hal-hal yang lebih penting. Apakah semestinya teknologi tidak masuk kedalam rumah tempat beristirahat? Tempat bersyukur? Tempat beribadah? Karena teknologi merenggut semua itu dariku.

Entri ini mungkin terdengar seolah aku menyalahkan teknologi atas segala keburukan yang menimpaku, tapi memang benar. Beberapa orang yang membaca mungkin akan menimpali, bahwa semua itu bisa ditangani dengan kedisiplinan diri, kontrol diri, namun berpuasa kurasa adalah jalan paling tepat. Berhenti menggunakan teknologi sama sekali, sepertinya adalah tindakan yang harus kulakukan untuk merebut kembali kendali atas kehidupanku, kontrol diriku.

Jejeran mesin kasino hampir tidak pernah memiliki belokan tajam kaku, selalu lengkungan mulus, menggelincirkan pengunjungnya yang berusaha berhenti dan keluar untuk mencoba sekali lagi saja. Karena belokan tajam memiliki konotasi pengambilan keputusan besar atau ekstrim dalam alam bawah sadar, karena hanya inilah satu-satunya cara untuk berhenti. Dengan mengambil langkah ekstrim, mencabut segala yang mendatangkan keburukan, dan menggantinya dengan hal-hal yang lebih positif.

Sekarang yang kubutuhkan hanyalah jam weker, komputer dan ponsel harus sejauh-jauhnya berada dari jangkauanku ketika dirumah, kurasa.

Jawabannya bukan membuang ponsel, bukan hanya ponsel, tapi seluruh hiburan digital berbasis internet.

Tuesday, September 30, 2025

Makna yang buram

Ku rebahkan diri diatas ranjang berantakan, bersandarkan selimut tebal yang terlipat-tekuk tak karuan membentuk semacam bantal, dan terlintas dalam benakku beratnya segala hal yang menuntut perhatianku.

Apakah hidup terlalu mewah, dengan kasur yang empuk dan kamar yang dapat diatur kehangatan dan kesejukannya, dengan makanan yang dapat dengan mudahnya dipesan lewat ponsel, dan segala kemudahan lainnya yang kuperoleh dari orang tua ku dan teknologi praktis yang disediakan zaman modern, telah merenggut makna dari hidupku?

Sebuta apa diriku terhadap harga setiap tarikan nafasku, yang disetiap tarikannya terkandung keajaiban hidup, keajaiban semesta, keajaiban dari sekedar ada dan berada, hingga aku tak dapat melihat nilai hutangku terhadap segala disekitarku, jasa-jasa yang seyogyanya aku balas dengan perhatian dan kasih sayang pula atas belas kasih mereka yang menopang setiap tarikan nafas dan seluruh gerak-gerikku.

Sulit untuk tidak membayangkan, senjata yang ditempa panasnya bintang kosmik dan matahari, hendaknya menghadapi ujian seperti apa. Seberat apa, sepahit apa, sesulit apa, seberharga apa, sepadan kah, segala jerih payah itu?

Sering kulihat di internet kata-kata mutiara dari Haruki Murakami, "I can bear any pain as long as it has meanings." Aku bisa menahan segala macam rasa sakit, selama jelas maknanya. Dan kembali lah benakku ke ranjang bersandarkan selimut itu, membayangkan beban yang kurasa dalam hati ini, akan makna yang berarti buatku.

Aku tidak punya jawabannya, aku belum memilikinya. 

Saturday, August 30, 2025

Surat terbuka untuk rekan-rekan penggarapan seni

Idealnya, kita memanusiakan orang lain untuk dimanusiakan kembali.

Kuambilkan air untukmu agar kita berdua dapat minum, kupetik bunga cantik ini agar kau dapat menikmati keindahannya seperti ketika aku pertama melihatnya, ku bolosi ujian akhir semester agar latihan pementasan kita tidak terganggu dan dapat menampilkan hasil terbaik.

Namun bagaimana apabila kita belum bisa sepenuhnya memanusiakan rekan kita?

Maafkan karena aku belum bisa hadir tepat waktu dalam latihan kita, aku akan menggantinya nanti.

Maafkan kerapuhan, letih, dan lemahku yang memperlambat kedatanganku di waktu latihan, aku akan mengejar ketertinggalanku.

Pada titik mana sebaiknya kita menyudahi, mencukupkan kekurangan kita dari membebani orang lain? Jika kehadiran kita lebih banyak membawa mudharat dari pada faedah, bukankah seyogya-nya kita rehat sejenak dari partisipasi tim?

Namun realita yang kita pahami adalah, tidak ada lagi yang bisa dimintai tolong. Bantuan kita, sesedikit apapun, beserta masalah-masalah pribadi yang harus ditanggungkan pada rekan-rekan kita, masih lebih baik daripada tidak sama sekali.

Siapa yang berhak memutuskan untuk memberhentikan atau mempekerjakan relawan dari partisipasi penggarapan karya seni?

Apa yang seyogyanya seorang relawan lakukan, jika Ia begitu mencintai proses penciptaan karya beserta rekan-rekan sesama relawannya, namun tak memiliki kapasitas yang mumpuni untuk mengelola dirinya agar selamat dan tetap utuh setelah menyerahkan jiwa dan raganya dalam penciptaan karya seni?

Siapa yang bisa menjamin nasib seorang relawan yang cacat, yang akan semakin cacat setelah melewati proses pengkaryaan yang terjal dan merenggut banyak hal dari nya yang sudah tak sempurna, akan dirawat dan dipedulikan rekan-rekan sesamanya?

Apakah relawan cacat yang memanusiakan rekan-rekannya, sudah dimanusiakan oleh tim nya?

Monday, June 16, 2025

Puncak, Orbit, Bulan, Bintang

Diatas langit masih ada langit, namun untuk sementara ini, kita rayakan pencapaian kita mencapai orbit.

Next, kita pergi ke bulan.

* * *

HUT, done.
Pentas, done bang.
Next? 
Regen full team, pentas idealis with dana gacor.

Sunday, June 15, 2025

Berlapis-lapis topeng

Draf dari : 30 Mei 2025

Aku... tidak tahu lagi apa yang nyata, tulisan-tulisan ini sekilas terlihat intim, tulus, sangat pribadi, namun aku mulai berpikir bahwa semua ini hanya lah pelampiasan dari keinginanku untuk menulis saja.

Selalu ada garis konseptual yang membentang di tiap tiap entri, rumusan umum berupa sebab-akibat, namun aku mulai mempertanyakan keasliannya. Apakah itu refleksi dari keresahan hatiku, atau hanya pola-pola yang berusaha dihubungkan oleh logika kepala ku untuk menghasilkan paragraf yang runtut dan runut.

Sebagai contoh, "Jiwa ku letih dan penat, solusinya mungkin tidur yang lebih berkualitas. Memaknai segala hal dalam kehidupan sehari-hari, alih-alih hanya membiarkannya lewat begitu saja." Bukankah semua itu terdengar logis?

Namun apa yang sesungguhnya aku rasakan? Apa yang sesungguhnya aku inginkan? Berbagai solusi aku usulkan, ku inovasikan tak lain hanya untuk diriku sendiri. Namun tak ada yang berhasil, tak ada yang melekat, tak ada yang konsisten. Apa pelajaran moral yang sedang kutimba saat ini? Apa yang menungguku dibalik garis akhir?

Minato Aqua merangsek maju penuh nyali dengan tiket satu arahnya ke negeri asing, melangkah dengan mantap menembus kabut dengan peta kosongnya, yang hendak ia isi dengan warna cerah dan ceria. Aku dari 2022 takjub akan kisahnya yang tersampaikan di lagu kereta laut itu, sangat menginspirasi, indah nan ajaib.

Kurasa aku ingin hidup seperti itu, jadi aku merangsek maju menjalani kehidupan kampus. Hidup itu indah, ajaib, aku ingat betul rasanya.

Namun rasa itu hilang ditengah jalan, aku tidak yakin jatuh dimana. Tiba-tiba aku semakin malas saja untuk berangkat keluar rumah, untuk mencari makan saja begitu berat, aku menjadi ancaman terhadap diriku sendiri.

Dan sepanjang waktu itu pula, aku terus mendambakan masa-masaku yang naif dan optimis akan masa depan. Diriku yang telah lalu, yang sudah hilang dan melebur jadi aku sekarang.

* * *

Lanjutan di 15 Juni 2025 :

Zengat pernah mengirimkan aku sebuah pesan panjang, 28 Januari lalu, semacam hadiah ulang tahun kepagian. Satu penggalan dari pesannya yang terus aku baca berulang-ulang :

"Sebuah mahakarya tidak akan mampu terwujud tanpa adanya ketulusan dan kerelaan diri sepanjang proses penciptaannya."

"Jika menurutmu mahakarya yang sedang engkau garap butuh segenap jiwa, raga, waktu, dan seluruh kedirianmu untuk dikorbankan -- Pertama, semoga beruntung. Kedua, lu salah"

"Get rekt" (english slang/bahasa gaul, setara "mampus lo")

Makasih wejangannya, sehat-sehat terus Zengat.



Tekad, Iman, Hati... Amanah

Hari ini (15mei25), anak-anak teater ada janji bertemu pukul 14, hari ini pula kedirianku memutuskan untuk runtuh, kambuh lagi.

Ada cucian yang harus dijemur, ada nasi basi yang harus dibuang dan piring yang harus dicuci, ada paket yang harus dikirim untuk Sofia yang ia perlukan di Bogor tanggal 23 kelak, dan aku memutuskan untuk mengambuhkan diri pukul 12 tengah hari...

* * *

Lusa lalu aku kambuh. Daya ponsel ku padam, rumahku pun gelap, rekanku membutuhkanku, dan aku tidak hadir untuk mereka.

Malam menjelang, aku memesan makan secara daring, sudah kubayar daring pula dan kuminta digantung di gagang pintu saja sehingga aku tak harus menerimanya tatap muka. Whatsapp kunonaktifkan sehingga tak ada pesan yang bisa masuk dan centangku tetap satu ketika ponsel tersambung ke internet untuk memesan makanan, aku belum siap kembali.

30 menit berlalu, perutku akhirnya takluk sehingga kuambil makanku, dan mendapati Daus yang telah menunggu hampir satu jam di teras untuk kubukakan pintu. Sempat pula Ia mengobrol dengan kurir makan ku ketika sampai, bel rumah tidak berbunyi ketika Ia tekan karena sambungan listriknya dicopot ketika Sofia hendak menyalakan treadmill ketika Ia liburan kesini 4 hari yang lalu. Ia pulang 2 hari yang lalu.

* * *

Sesuatu yang selalu berusaha kutolak, yang selama ini tidak bisa kuterima sebagai kenyataan, adalah kesombonganku sebagai makhluk lemah yang hidup di muka bumi, yang sepantasnya takluk akan kehendak takdir yang diatur oleh tuhan.

Nasihat bunda selalu ku abaikan, ketika Ia terus mengoceh bahwa yang kubutuhkan adalah tuhan, yang kubutuhkan adalah ibadah, tapi bagaimana mungkin meminta pertolongan dari sesuatu yang hanya eksis secara konseptual? Bagaimana cara mempercayai hal itu? Bagaimana cara bergantung pada sesuatu yang tidak bisa di 'nyata' kan oleh akal pikiran?

Kiranya begitu olehku, jika hidupku sudah tidak berantakan, barulah ibadah dapat kutunaikan dengan taat, pikirku. Namun sepertinya bukan begitu cara kerja agama, cara kerja tuhan, cara kerja hati. Perilaku tidak bisa membengkokkan kehendak hati, justru sebaliknya.

Nasihat bunda tidak lagi mempan padaku, hidupku yang porak poranda selalu Ia kaitkan pada ibadah, pada tuhan. Bukan niatku untuk menjadi durhaka, tapi kalau hatiku belum mau kesana, seyogyanya harus bagaimana? Nasihatnya menjadi ocehan mengesalkan, tidak ada kata-katanya yang bisa menyusup dalam hatiku.

Bunda taat beribadah, pasti enak bisa mempunyai kepercayaan tak tergoyahkan seperti itu dalam hatinya. Jika tertimpa kesulitan, cukup meneguhkan hati dan percaya akan takdir yang diatur tuhan. Namun aku tidak bisa melakukan itu, selama ini, aku menghadapi dunia dengan logika, semua adalah rumus yang bisa terpetakan jika aku berusaha cukup keras menurutku.

Tapi apa yang selalu kukatakan pada orang yang menceritakan kesulitannya padaku?

"Badai hanya lah sementara, badai kan berlalu, surya kan tiba, teruslah berlayar, teruslah bertahan, teruslah menerjang."

Munafik, standar ganda, kontradiktif, aku yang berprinsip logis, menasihati orang dengan rasa, dengan meyakinkan keteguhan hati.

Lantas apa jadi nya aku ketika terperangkap dalam lubang konseptual yang persis? Lubang yang mencekik hati, menggoyahkan iman, meranggaskan tekad.

"Sebentar lagi, waktu akan menyembuhkan segala luka, biar ku istirahat sejenak, jalan masih panjang."

* * *

Malam itu Daus bermalam dirumahku, membawa kaset-kaset musik orisinil koleksinya untuk diputar di HiFi Sound System milik ayah sebelum lelap menjemput. Musik Sigur Ros diputar dengan volume sedang pukul 00:30 dini hari seraya aku dan nya dibuai hingga terlelap oleh alunan nada dari dalam kaset. Diselingi reff "Bokura no Seiza" Shirakami Fubuki satu jam setelahnya dalam bentuk alarm ponselku, aku sudah lelap sedangkan Daus belum.

Paginya Daus hengkang, aku mandi sejenak sebelum berangkat menjemputnya yang bersiap-siap daribkos. Siangnya kami berdua ke kediaman mas Benz untuk konsultasi setting perpanggungan dan sebagainya, termasuk permasalahanku.

Mas Benz mewejangkan beberapa penawaran, perbanyak menggantungkan diri pada Dzat yang maha kuasa, berolahraga atau memenuhi kebutuhan tubuh baik secara fisik atau psikis, bisa berupa nutrisi atau hiburan, kepuasan diri, atau ke psikiater untuk menangani permasalahannya secara logis, seperti prinsip yang aku pegang.

Nasihat ini mengejutkan bagiku, karena mas Benz adalah sosok yang tidak terlihat begitu dekat dengan agama ketimbang aku. Ia peminum, Ia pengguna ganja, Ia biang onar semasa mudanya, namun ada kerendahan hati darinya yang tidak kumiliki ketika menyangkut keimanan pada Dzat yang lebih tinggi dari dunia seisinya.

Aku masih terlalu sombong, secara tidak sadar pun aku masih memandang rendah orang disekitarku dengan segala bias kepercayaan dan prinsip yang kupegang. Dan yang paling fatal, aku tidak menggantungkan diri pada tuhan. Mas Benz, orang yang kupandang sebagai pendosa itu, berserah diri pada tuhan. Barangkali derajatnya jauh lebih tinggi dibanding aku yang berpikir aku diatasnya hanya karena aku pernah lebih lama taat beribadah ketimbangnya.

* * *

Aku paham secara logika, keimanan dibutuhkan untuk hidup sehat. Hatiku harus sehat untuk membenahi hidupku, ibadah adalah akar segala perkara kehidupan. Namun cara bunda menasihatiku, dengan taat beribadah, dengan sifat memaksa, tidak mendapat simpatiku. Niatnya baik, namun hal itu tidak beresonansi dalam hatiku. Justru ketika nasihat itu datang dari mas Benz, orang yang paling tidak kuduga untuk mendapat nasihat yang sama, akhirnya hatiku tergerak.

Aku yakin bunda tidak henti-hentinya berdoa di sepertiga malam terakhir untukku, adik-adikku, ayah, dan keluargaku. Bahkan setelah semua yang terjadi, menghadapi keras batunya hatiku yang bandel mendengarkan nasihatnya, doanya masih didengarkan dan dikabulkan tuhan. Pertemuanku dengan mas Benz adalah wujud manifestasi doa malam-malam tersebut, kurasa. Aku akan mencoba bun, mas, akan kucoba.

Tuesday, June 10, 2025

dibalik cermin

Dalam kerangkeng konseptual aku berdiri dalam hampa, menatap buram kemanapun mata mendarat, sambil menghela nafas, hanya satu yang bisa kubisikkan pada diri sendiri, "capek, capek banget, aku capek banget." Aku baru selesai mandi, 7 jam setelah bangun pagi.

Namun ucapan adalah doa, sejak kapan aku membiasakan mengucap hal yang begitu buruk? Dunia ada dalam genggaman orang yang menghendakinya, tekad adalah permainan pikiran belaka. Sejak kapan aku kalah?

Tapi aku sungguh lelah, tuhan. Aku tak mampu lagi melawan realita, aku muak dan lelah, 'sedikit lagi' ini tidak ada ujungnya, kebohongan apalagi yang harus aku ciptakan untuk membakar jiwa dan hati ini agar ia bisa tulus bergerak memenuhi kewajiban yang kutanggung untuk orang lain?

Capek, capek banget, aku capek banget...

Giling aku, aku lelah, aku ingin damai, aku ingin mengulang, aku ingin hal baru. Aku lelah, aku lelah, lelah.